Membumikan Kembali Dakwah Walisongo - Kuresensi Media

Membumikan Kembali Dakwah Walisongo

Ilustrasi. Membumikan Kembali Dakwah Walisongo
Ilustrasi screenshoot Bina Insani Channel

KURESENSI MEDIA - Dakwah merupakan suatu penyampaian ajaran agama, lebih khusus dalam agama Islam. Bagi umat Islam, dakwah adalah suatu kewajiban yang diemban oleh tiap-tiap pemeluknya. 

Hal ini berlaku baik bagi lelaki maupun wanita, baik golongan tua ataupun muda. Jika dilihat dalam kaidah hadits, sampaikan walau satu ayat, memberikan gambaran yang jelas bahwa dakwah merupakan suatu yang sangat dianjurkan. 

Bahkan ketika seorang manusia hanya mengetahui satu hal, maka hal itu patut disampaikan kepada orang lain untuk menjadi pengetahuan bersama.

Dakwah menjadi tongkat penopang agama. Karena dengan berdakwahlah, agama Islam terus ada dan berkembang hingga sampai hari ini. Pengertian ini pun perlu dimiliki oleh setiap pemeluk agama Islam agar nasehat tauhid tetap tersampaikan ke seluruh penjuru dunia. 

Baca juga: Perjalanan Theo Cornaro; Sang Pembebas Systina

Masih banyak kaum yang belum mendapat nasehat tauhid yang perlu diberikan pengetahuan agama melalui dakwah. Lebih lanjut, di dalam agama Islam sendiri masih  banyak kaum awam yang hanya memeluk agama tanpa menyadari aspek-aspek kewajiban dan larangan yang perlu diketahui harus diberikan pengertian melalui jalan dakwah.

Dakwah Walisongo di Tanah Jawa

Di Indonesia, khususnya Pulau Jawa dikenal tokoh pendakwah sebagai pembawa Islam pertama ke tanah Jawa yaitu Walisongo. 

Melalui nasihat taqwa Walisongo, Islam disebarkan dengan damai dan mudah diterima oleh masyarakat lokal. Dibalik hal tersebut tentu ada hal yang patut dipelajari oleh umat Islam agar kewajiban dakwah dapat dijalani dengan baik.

Baca juga: Santri Sebagai Penjaga Intelektual Generasi Muda

Walisongo menyebarkan Islam dengan metode akulturasi. Akulturasi (KBBI) adalah percampuran dua kebudayaan atau lebih yang saling bertemu dan saling mempengaruhi. 

Ketika menyampaikan dakwahnya, walisongo tidak menghilangkan budaya lokal yang telah berkembang jauh sebelum Islam datang. Justru dengan adanya dakwah Islam, walisongo berdakwah dengan cara revitalisasi local wisdom dengan penguatan nilai-nilai Islam. 

Tentulah hal ini menjadi kekuatan dasar dakwah walisongo sehingga masyarakat mampu memahami dan menerima nilai-nilai Islam secara jelas.

Dakwah Ala Walisongo di Era Teknologi

Di era ini, masyarakat kembali membangun kebudayaan baru dengan berbagai kemudahan teknologi. Budaya berteknologi yang mulai berkembang di masyarakat juga dapat dikuatkan dengan nilai-nilai Islam jika pendakwah mampu kreatif melihat jalan dakwah yang ada. 

Baca juga: Zaman Zulkarnaen dan Penulisnya yang Misterius

Dalam kaidah ATM (amati, tiru, dan modifikasi), pendakwah dapat mengamati dan meniru teknik berdakwah ala walisongo dengan menyelipkan nilai Islam pada budaya lokal yang tentunya sesuai dengan kaidah ajaran Islam. Hal ini dimodifikasi dengan kondisi masa kini dengan budaya baru yang berkembang di masyarakat. 

Tentu budaya berteknologi melahirkan kaum yang memiliki literasi teknologi atau tingkat baca via internet yang lebih tinggi daripada buku. Pendakwah dapat memanfaatkan internet dalam berdakwah. Masyarakat pun dapat memiliki daya tarik terhadap dakwah teknologi jika pendakwah mampu mengemas dengan elegan.

Meski demikian, sebagai seorang pendakwah harus mampu menetapkan batasan-batasan yang tak boleh dilanggar oleh dirinya dalam menyampaikan nasihat taqwa tersebut. Jangan sampai dakwah disampaikan dengan menyelipkan nilai-nilai di luar Islam. 

Baca juga: Menggali Hikmah Melalui Rumus-Rumus Fisika

Begitu juga dalam hal akulturasi, jangan menimbulkan kesalahpahaman masyarakat karena nilai Islam justru hanyut di dalam budaya. Para pendakwah perlu memiliki keteguhan iman agar selalu mengutamakan nilai-nilai Islam. Wallahu’alam Bishawab.[s]

Powered by Blogger.